“Anakku nakal sekali. Sukanya bikin rumah berantakan.”
“Sama, Mbak. Anakku juga nakal. Suka lari-lari, nyenggol barang, sampai pot pecah. Padahal mahal.”
“Kok kita sama, ya. Anakku juga nakal. Suka naik ke meja. Ada tamu pun naik ke meja. Malu, aku.”

Pernah dengar obrolan ibu-ibu seperti itu? Mengeluhkan anaknya nakal. Disertai deskripsi kenakalan buah hati mereka.

Benarkah anak nakal dan bagaimana cara mengatasinya? Sebagian psikolog dan pakar pendidikan menjelaskan, pada dasarnya tidak ada anak nakal. Lho, kok? Coba kita simak tiga hal ini. Sadari lalu lakukan ya Ayah Bunda..

Tidak Ada Anak Nakal, Tetapi Belum Mengerti

Tidak ada anak nakal. Yang ada, anak yang belum mengerti. O ya, anak di sini maksudnya benar-benar anak-anak ya. Terutama yang masih usia dini. Bukan SD kelas 6 apalagi SMA.

Pada kasus pertama, apakah bikin rumah berantakan itu nakal? Tidak. Anak-anak memberantakkan rumah karena belum mengerti. Memang secara naluriyah, anak-anak suka bermain. Apa pun yang dilihatnya bisa dijadikan mainan.

Ketemu balok kayu, dijadikan mainan. Ketemu mobil-mobilan, dijadikan mainan. Ketemu buu, dijadikan mainan. Ketemu perabot rumah tangga pun dijadikan mainan.

Bermain ini memang sesuai tahap perkembangan mereka. Dengan bermain, kemampuan motorik anak meningkat. Dengan bermain, imajinasi anak berkembang. Dengan bermain, kemampuan kominukasi anak berkemang. Dengan bermain bersama teman, perkembangan sosial anak meningkat.

Yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan mainan yang tepat. Bahkan kalau perlu menemani mereka. Rasulullah saja -yang sangat sibuk dengan agenda besar dakwah, tarbiyah dan jihad- sering bermain bersama anak. Mulai dari main kuda-kudaan sama Hasan dan Husein, mengajak anak-anak sahabat lomba lari, dan lain-lain. Apakah kita lebih sibuk dari Rasulullah?

Selain memberikan mainan edukatif yang  tepat, kita juga perlu mulai mengajarkan dan membiasan anak agar merapikan kembali mainannya. Sambil dijelaskan, Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Di Sekolah Al Ummah, anak-anak diajarkan hadits ini; innallaaha jamiil, yuhibbul jamal.

Demikian pula jika ada anak naik meja, mereka belum mengerti. Tugas kita sebagai orang tua untuk menjelaskan kepada mereka bahwa itu tidak sopan. Apalagi jika ada tamu.

Tidak Ada Anak Nakal, Tetapi Orang Tua Kurang Sabar

Ayah Bunda, tidak ada anak nakal. Yang ada adalah, kita yang kurang sabar. Anak-anak itu perlu bermain karena demikianlah fitrah perkembangannya. Tetapi kita kurang sabar lalu menyebut mereka nakal.

Kalau ada anak lalu naik ke punggung ayahnya yang sedang sujud saat shalat, apakah dia anak nakal? Jika kita menyebutnya anak nakal, itulah bukti kurang sabarnya kita. Bukankah Rasulullah pernah mengalami kejadian seperti ini. Waktu itu beliau mengimami shalat jamaah. Setelah shalat, sebagian sahabat bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah tadi turun wahyu kepadamu sehingga sujudmu sangat lama?”

“Tidak. Tetapi tadi cucuku naik ke punggungku dan aku mendiamkannya hingga ia turun. Baru aku bangkit dari sujud,” demikian kira-kira jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Alangkah indahnya keteladanan Rasulullah. Beliau sangat sabar menghadapi anak-anak. Beliau sangat tahu perkembangan anak-anak.

Coba mulai sekarang kita ubah paradigma tentang anak dan kenakalan. Jika anak memberantakkan rumah, bukan berarti anak nakal. Tetapi kita yang kurang sabar menemani anak, mengajari dan membiasakan mereka.

Jika anak lari-lari sampai memecahkan pot bunga, bisa jadi kita yang kurang tepat meletakkan pot itu atau kita kurang sabar menjelaskan kepada anak bahwa lari-larinya di halaman atau area bermain.

Demikian pula jika anak masih naik ke atas meja, bukan berarti dia anak nakal. Mungkin kita yang kurang sabar mengingatkan. Atau kita kurang sabar memberi perhatian dan menemani mereka bermain.

Pakar psikologi menjelaskan, ketika anak merasa kurang diperhatikan ketika ada tamu, ia akan melakukan hal-hal yang menurutnya bisa menarik perhatian. Mirip dengan anak yang merasa kurang perhatian orang tua dan baru diperhatikan ketika ada orang lain, ia justru akan memanfaatkan kesempatan sewaktu ada orang lain atau tamu. Misalnya mita sesuatu dengan merengek dan sejenisnya.

Mungkin Kita Kurang Mendoakan Anak-Anak

Lalu bagaimana kalau sudah diingatkan, sudah diajari, tetapi sampai besar anak masih melakukan hal-hal yang kurang sopan seperti naik meja saat ada tamu? Atau bahkan anak tidak mau shalat padahal usianya sudah 10 tahun?

Ada hal lain yang kerap terlupa di zaman sekarang. Apa itu? Doa. Kita mungkin lupa mendoakan anak-anak. Atau kalaupun mendoakan, sekedarnya saja dan kurang kesungguhan.

Di banyak kampung, ada anak-anak Kyai yang waktu kecilnya disebut orang-orang sebagai anak nakal. Namun ketika besar, mereka semuanya menjadi anak-anak shalih yang dibanggakan, termasuk oleh orang-orang yang tadinya menyebut nakal.

Salah satu rahasianya adalah doa orang tua mereka. Para Kyai atau ulama tersebut benar-benar bersungguh-sungguh saat mendoakan anak.

Nah, ini salah satu PR kita. Mulai sekarang, mari memperbanyak mendoakan anak. Manfaatkan waktu-waktu mustajabah untuk mendoakan mereka. Mulai dari doa setelah sholat, doa di sepertiga malam terakhir, doa menjelang berbuka saat puasa, dan waktu-waktu mustajabah lainnya.

Juga jangan lupa, sejak usia dini, temani mereka menjelang tidur. Bacakan ayat kursi, lalu tiga surat terakhir (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas) tiga kali dengan meniupkan ke tangan kemudian mengusapkan ke seluruh tubuh anak, dan terakhir doa sebelum tidur. Insya Allah anak dilindungi Allah dari gangguan syetan dan menjadi lebih shalih. Bacaan dan caranya bisa dibaca di artikel: Ingin Anak Shalih? Lakukan 3 Hal Ini Sebelum Tidur.

Semoga seluruh Ayah Bunda yang membaca artikel ini dimudahkan untuk mengamalkannya. Dan semoga Allah menjadikan seluruh anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Aamiin. []