Anak-anak perlu kita kenalkan tahun hijriyah, sebab ia adalah kalender Islam. Sebab ibadah-ibadah dalam Islam terkait erat dengan penanggalan ini.

Saat ini kita telah memasuki tahun baru hijriyah 1422. Momentum bagi orang tua untuk mengenalkan tahun hijriyah dan bulan Muharram kepada anak.

Memancing dengan Pertanyaan

Salah satu cara menciptakan golden moment adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada anak. Dengan pertanyaan, anak akan terstimulus untuk berpikir dan otaknya fokus mencari jawaban. Ketika dia belum menemukan jawaban di memorinya, ia akan balik bertanya dan siap memasukkan informasi baru ke otaknya.

“Adik tahu enggak, sekarang tahun berapa?”
“2020, Yah”
“Kalau tahun hijriyah?”
“Enggak tahu, tahun hijriyah itu apa?”
“Sekarang tahun 1442 hijriyah. Nah, Ayah ceritakan tahun hijriyah ya.”

Ceritakan Sejarah Kalender Hijriyah

Tak cukup memberi tahu anak sekarang tahun berapa hijriyah. Yang tak kalah penting adalah bagaimana sejarah kalender hijriyah agar anak memiliki ikatan hati, menyerap nilai dan menginternalisasikan karakter dari kisah itu.

Ceritakan kepada anak bahwa di zaman jahiliyah dan masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, belum ada angka tahun di Arab. Tahun-tahun saat itu disebut dengan nama peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Misalnya tahun gajah, tahun fijar, tahun nubuwah.

Nah, di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, datang masalah karena belum adanya angka tahun tersebut. Atas aduan Gubernur Basrah Abu Musa Al Asy’ari, Umar mengumpulkan para sahabat untuk menyepakati kalender Islam.

Sempat muncul beberapa usulan kapan kalender Islam harus mulai. Ada yang usul dimulai pada tahun kelahiran Rasulullah. Ada yang mengusulkan dimulai pada tahun turunnya wahyu. Ada juga yang usul dimulai pada tahun wafatnya Rasulullah.

Ali bin Abu Thalib mengusulkan kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Sebab tahun itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Tonggak awal berdirinya peradaban Islam dari Madinah. Maka ditetapkanlah tahun hijrah sebagai tahun pertama kalender Islam. Dan karenanya, penanggalan ini disebut sebagai kalender hijriyah.

Dengan cerita ini, ajak pula anak untuk memaknai tahun baru hijriyah sebagai momentum hijrah. Menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau tahun lalu bangunnya masih siang, tahun ini harus lebih pagi. Kalau tahun lalu setelah shalat langsung main, tahun ini harus dzikir dan doa dulu.

Baca juga: Mengajari Anak Puasa Asyura

Kenalkan Bulan Muharram dan Amalan Sunnah di Dalamnya

Sepaket dengan pengenalan kalender hijriyah, kenalkan juga bulan Muharram. Bulan pertama dalam kalender hijriyah. Kenalkan pula amalan sunnah pada bulan ini dan ajak anak berusaha mengamalkannya.

“Nah, kalau Adik sudah tahun sekarang tahun 1422 hijriyah dan Adik juga sudah tahu sejarah kalender hijriyah, Adik tahu enggak sekarang bulan apa?”
“Agustus, Ma.”
“Iya. Kalau bulan dalam kalender hijriyah?”
“Bulan apa Ma?”
“Bulan Muharram. Ini bulan pertama dalam kalender hijriyah. Banyak amal sunnah di bulan ini.”
“Apa saja, Ma?”
“Ada puasa asyura pada tanggal 10 Muharram. Keutamaannya luar biasa lho.”
“Apa, Ma?”
“Siapa yang mengerjakan puasa asyura, dosanya setahun yang lalu akan diampuni.”
“Wah, hebat ya Ma.”

“Ada lagi, puasa tasu’a.”
“Puasa apa itu Ma?”
Puasa tasu’a itu puasa tanggal 9 Muharram. Sebelum Rasulullah wafat, beliau ingin puasa asyura ditambah sehari sebelumnya. Ya, puasa tasu’a ini. Tapi sebelum tahun depan itu datang, Rasulullah sudah wafat.”
“O, begitu Ma.”
“Masih ada lagi. Di bulan Muharram juga dianjurkan memperbanyak puasa sunnah.”
“O, makanya Ayah dan Mama sekarang sering puasa.”
“Iya.”
“Adik nanti ikut puasa asyura ya…”
“Insya Allah, Ma.”

Ayah Bunda boleh menggunakan cara yang berbeda atau mengembangkan dialog bersama Ananda. Intinya, manfaatkan setiap momentum untuk menanamkan karakter kepada anak. Bisa dengan didahului pertanyaan, bisa dengan langsung cerita. Selalu upayakan ada dialog sehingga anak terlibat, merasa lebih dekat dan terjadi bounding. []