Di Sekolah Al Ummah dan sekolah-sekolah lain dalam naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), anak-anak sudah dibiasakan sholat dhuha sejak dini. Sebab salah satu karakteristik SIT adalah mengintegrasikan nilai Islam ke dalam bangunan kurikulum.

Lalu bagaimana jika di sekolah anak belum ada pembiasaan sholat dhuha tetapi kita ingin mengajari dan membiasakan anak sholat dhuha?

Kenalkan anak dengan Allah dan tumbuhkan cintanya

Ini hal paling mendasar yang harus menjadi pondasi dalam parenting kita. Sejak dini, kenalkan buah hati dengan Allah. Bahkan sejak dalam kandungan, elus-elus perut dan sebut nama Allah. Ucapkan kalimat thayyibah, perbanyak tilawah.

Begitu lahir, dengarkan nama Allah dengan adzan dan juga doa. Perbanyak tilawah di sampingnya. Mulai perkenalkan Allah sebagai Rabb dan Ilah-nya. “Masya Allah.. anak shalih.. kamu anugerah terbaik dari Allah untuk Bunda dan Ayah,” demikian misalnya.

Saat usia dini dan bisa diajak bicara, lanjutkan memperkenalkan Allah dan menumbuhkan cinta kepada-Nya. “Alhamdulillah kita bisa makan. Ini rezeki dari Allah. Dia yang menciptakan hewan termasuk ayam yang dagingnya kita makan. Dia yang menciptakan sayuran dan buah. Jadi makanan bergizi untuk kita.”

Sampaikan syariat dan keutamaan Sholat Dhuha

Kalau anak sudah mencintai Allah, insya Allah sangat mudah mendorong anak ke fase berikutnya. Ketika disampaikan bahwa Allah memerintahkan ini, Allah suka ini, anak-anak akan mudah melakukannya. Sebab dasarnya adalah mahabbatullah (cinta kepada Allah).

Katakan kepada anak bahwa Allah mensyariatkan sholat dhuha dan Rasulullah mewasiatkan kepada Abu Hurairah untuk shalat dhuha setiap hari. Di antara keutamaannya, dua rakaat sholat dhuha senilai 360 sedekah. Cukup menggantikan sedekah seluruh ruas anggota badan yang harus dilakukan.

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang berbuat munkar adalah sedekah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

Beri keteladanan

Satu keteladanan lebih efektif dari seribu kata-kata. Kalimat bijak itu bisa kita jadikan pengingat untuk selalu memberikan keteladanan kepada anak atas apa yang kita ingin mereka lakukan.

Ketika kita menyuruh anak melakukan sesuatu tetapi mereka melihat kita tak pernah melakukan sesuatu itu, perintah kita bisa jadi akan mentah. Namun ketika kita menunjukkan contoh dan keteladanan, ia menjadi sangat efektif. Anak adalah peniru ulung. Ia akan meniru apa yang dilakukan orang tua di depan matanya.

Tiga langkah utama ini tidak hanya untuk membiasakan sholat dhuha tetapi juga bisa diterapkan untuk membiasakan amal dan kebiasaan baik lainnya. Selamat mengamalkan, semoga buah hati kita semakin shalih dan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.