Menyentuh Pelangi di Deras Air Terjun Pandawa

Tasbih kami semakin berlimpah ketika suara deras ai terjun Pandawa terpampang jelas di depan mata.

Menyentuh Pelangi di Deras Air Terjun Pandawa

Siang yang hangat di desa Tiris Probolinggo Sabtu itu menyambut kedatangan kami. Dengan riang puluhan ustadzah dari KBIT-TKIT-TAAS Al Ummah menapakkan kaki di pemberhentian perdana dalam agenda rafting 16 Juni 2012.

Perjalanan 4 jam dengan bus belum usai. Tanpa ragu, kami segera melanjutkan perjalanan dengan menaiki beberapa pick up yang telah disiapkan. Dengan posisi berdiri beratap langit di bagian belakang pick up, tampak jelas pesona alami Desa Tiris di kaki Gunung Lamongan Kabupaten Probolinggo. Sepanjang jalan berbatu, pick up dengan lihai berkelok kelok naik turun jalan terjal dan cukup sempit. Rumah warga yang sederhana dan pepohonan dengan ranting dan daun yang banyak menjorok ke jalan seringkali menyapa ransel bahkan kepala kami.

Sekitar 15 menit perjalanan, kami pun tiba di basecamp Noars Rafting. Seusai sholat dan merapikan perlengkapan, kami segera “berubah”. Dengan mengenakan helm, pelampung dan berbekal sebuah dayung, kami berbaris mengikuti arahan dari guide.

Kembali kami dipersilahkan menaiki pick up menuju start point. Petualangan tampak baru dimulai saat perjalanan kaki naik turun tebing yang sempit, curam dan licin menuju start point.

Perjalanan melelahkan berangsur hilang ketika mulai jelas terlihat jernihnya sungai Pakelan Atas. Belasan perahu karet siap bersandar. Masing-masing tim menaiki perahu dengan seorang guide di dalamnya. Setelah mengulang arahan, membuat nama tim dan berdoa, satu persatu perahu bergerak perlahan. Rafting di mulai..50 titik jeram siap diarungi.

Suara teriakan histeris terpantul di dinding jurang ketika perahu melewati jeram pertama, “jeram selamat datang”. Perahu nyaris terguling dan penuh dengan air saat melewati jeram ini.

Beberapa jeram dengan nama-nama aneh tidak kalah memicu adrenalin. Jeram gendong dan jeram hiu misalnya. Di jeram hiu, hampir semua perahu terhempas keras. Tidak jarang di jeram yang banyak “memakan korban” ini satu atau ustadzah nyaris terpelanting dengan posisi kepala menyentuh derasnya air yang mengalir.

Sesekali perahu kami melewati arus yang tenang dimana kami bisa mencoba menyisir sungai dengan mendayung sambil leluasa melepas pandangan pada air yang mengalir, bebatuan hitam kokoh yang terserak artistik di sepanjang sungai. Kekaguman kami semakin meluap ketika mendongakkan kepala. Kami berada jauh dibawah jurang dengan dinding tebing yang menghijau. Ranting dan akarnya menjulang sampai permukaan sungai.Rafting ustadzah Al Ummah - 1

Tasbih kami semakin berlimpah ketika suara deras ai terjun Pandawa terpampang jelas di depan mata. Puluhan kelelawar bertengger tenang di stalagmit yang licin. Kami melihat dengan mata telanjang keagungan ciptaan Allah yang selama ini mungkin hanya bisa kami tonton di discovery channel. Tak kami lewatkan berpose dengan latar belakang air terjun pandawa yang berhias dua lengkung pelangi setengah lingkaran. Bias warna merah kuning biru pantulan air sungai Pakelan seperti ingin jari kami menyentuhnya. Kami pun membiarkan derasnya air terjun mengguyur kepala dan tubuh kami. “Suegaar”

Perahu kembali bergerak maju.Adrenalin kami diuji ketika guide mempersilahkan kami satu persatu melompat di atas tebing setinggi 4 meter. Perahu ditambatkan, satu persatu ustadzah yang penasaran pun mencoba melompat. Byuuur…keindahan luar biasa semakin jelas ketika tubuh kami mengapung di atas air dengan posisi terlentang. Dengan gaya kaki layaknya mengayuh sepeda kami menikmati biru laut di atas tebing sambil berenang “tiduran” dan bergerak menuju perahu.

“Sungai Pakelan masih yang terbaik di Jawa Bali, keindahannya yang masih perawan dan aliran sungainya yang paling seru untuk rafting” papar salah satu guide sambil mendayung lambat di aliran sungai yang mulai tenang menuju finish point.

Langit desa Tiris mulai bersemu jingga ketika kami berpamitan. Adzan maghrib yang berkumandang mengiringi kami meninggalkan desa Tiris Probolinggo.

“Lelah tapi menyenangkan, jadi pengen lagi” komentar hampir semua ustadzah keesokan harinya. []

Comments are closed.