Antusiasme Wali Murid Sekolah Al Ummah di Sosialisasi CBI Fonik

Anak mampu membaca dan menulis adalah harapan setiap orangtua. Namun definisi membaca tidaklah se-instan harapan yang secara umum dipikirkan oleh kebanyakan orangtua. Pemahaman definisi membaca dan menulis perlu diluruskan kembali oleh banyak para orangtua.

Zaman kita sebagai  orangtua  saat sekolah era tahun 80-90 an, proses membaca adalah melalui mengenal hurufnya. Ini huruf a, b, c, d dan seterusnya. Lalu kemudian belajar meng-eja nya. “ i-ni i-bu Bu-di” misalnya. Nah ternyata makna membaca tidaklah demikian proses tahapannya. Bagaimana sih definisi membaca dan menulis yang menjadi salah satu bagian literasi untuk anak usia dini. Mari kita simak penjelasannya melalui resume dengan pakar  sekaligus penemu metode fonik.

Senin, 29 Oktober 2018 kembali sekolah Al Ummah menyelenggarakan parenting bulanan bersama komite sekolah bertemakan “sosialisasi metode fonik bersama pakar dan penemu fonik ibu Sumarti M Thahir. Tak kurang dari 100 wali murid hadir dalam acara tersebut. Orangtua siswa begitu antusias menyimak materi dengan tema yang memang sudah ditunggu-tunggu akhir-akahir ini. Ya, ayah bunda cukup kepo dengan apa sih fonik itu? Karena anak-anak al ummah sesampainya di rumah bercerita aku habis fonik bersama ustadzaku ma. Membaca adalah salah satu kecakapan hidup yang perlu dimiliki oleh setiap anak. Dengan membaca, anak mampu memahami pengetahuan dan informasi baru. Dalam metode cerdas berbahasa indonesia fonik (CBI Fobik), anak-anak diajarkan untuk tidak sekedar membaca, tapi juga seluruh ketrampilan berbahasa, mulai dari membaca, menulis, menyimak dan berbicara.

Dalam paparan awal Bunda Marti menyampaikan bahwa, realitas dilapangan ada dua model orangtua yang menyikapi tumbuh kembang anak-anak. Pertama ada yang tergopoh-gopoh dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya. Kita ambil ibroh nya model yang pertama ini dengan menjadi orangtua yang sigap dan cekatan dalam mendidik anak. Adapula orangtua yang menyikapi tumbuh kembang anaknya dengan slow (kalem), maka yang ini kita ambil hikmah kesabarannya. Mendampingi dan mengawal tumbuh kembang anak ibaratnya adalah punya kendaraan/sepeda motor, mobil. Kita harus tahu kapan waktunya menge-rem. Anak dan kendaran tentunya berbeda, kendaraan benda mati sedangkan anak adalah amanah Allah yang unik dan istimewa. Namun keduanya mempunyai kesamaan yaitu terletak pada poin ketrampilan.

Penemu fonik yang sekarang sedang menyelesaikan buku untuk Kemendikbud ini menegaskan kepada seluruh wali murid yang hadir, bahwa urusan fonik itu kecil yang terpenting adalah memberikan ketepatan untuk tumbuh kembang anak. Karena memberikan ketepatan untuk tumbuh kembang anak tidaklah dengan hal yang selalu harus sama. Di lapangan kita melihat banyak para orangtua yang bertanya, mengapa anak saya yang sudah tahu huruf namun belum bisa membaca sampai sekarang. Ternyata pemahaman selama ini para orangtua dengan melihat anak sudah tahu huruf adalah kekeliruan. Karena literasi anak usia dini adalah tidak berhubungan dengan anak mengetahui huruf saja. Karena apabila huruf-huruf itu berdiri sendiri tidak terangkai  dalam kata tidak akan menghasilkan bunyi.

Nah tidak hanya kesalahan pada mengenalkan huruf a, b, c, d dst ternyata ada pula perbedaan mengapa anak-anak usia dini perkembangan nya berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Ada 3 faktor yang menyebabkan perbedaan perkembangan pada setiap anak dengan anak yang lainnya

  1. Pada saat awal pembentukan (saat masa mengandung)

Faktor usia ketika hamil sangat berpengaruh pada pembentukan janin. Hamil pertama berusia 25 tahun, lalu hamil berikutnya berusia 35 tahun. Usia berkaitan dengan fisik yang membawa efek pada masa mengandung. Kemudian pada masa-masa kehamilan di tri semester awal dan 3 bulan berikutnya. Karena perbedaan inilah anak disebut unik.

  1. Pada saat kelahiran

Bermacam-macam kondisi anak ketika proses kelahirannya. Ada juga orangtua yang  menginginkan kelahiran anak dengan tanggal cantik. Akhirnya memilih proses lahir dengan caesar. Hal seperti ini adalah awal ketidak jelasan orangtua memberikan identifikasi kepada anak. Maka para orangtua diharapkan mulai belajar mengenali proses kelahiran anak nyabaik itu anak yang dilahirkan secara spontan maupun dengan bedah caesar lalu berikan stimulasi yang tepat. Karena poses lahir baik dengan cara spontan apabila stumulasinya kurang tepat dan optimal bisa lebih unggul dengan anak yang lahir dengan proses caesar.

Aktivasi alamiah organ artikulasi dari Allah bisa dibuktikan dari proses kelahiran spontan. Yaitu  saat bayi diizinkan Allah berputar otomatis sesaat sebelum keluar dari jalan lahirnya. Di situlah sistem aktivasi alamiah dari Allah pertama kalinya distimulasi secara alamiah. Subhanallah. Bagi bayi yang diberikan proses lahir bukan dengan spontan, maka aktivasi alamiah tersebut bisa distimulus berikutnya sesuai dengan tahapan kebutuhannya. Jadi cikal bakal anak bisa berbicara adalah dengan mengecek kondisi organ artikulasinya.

  1. Faktor pengasuhan awal

Realitas orangtua masa kini ibu khususnya, banyak tidak melakukan kegiatan menggendong bayinya di usia-usia pentingnya. Ada yang cukup meletakkan bayinya di stroler (kereta dorong). Sebenarnya dengan aktivitas menggendong bayi ini akan mengaktivasi organ area leher hingga kepala untuk melakukan gerakan mendongak dsb. Ini juga merupakan salah satu kekeliruan dalam pola pengasuhan awal. Ada lagi pada aspek pemberian makanan. Pemberian makanan sangat berpengaruh pada kesiapan bicara. Usia anak yang seharusnya sudah harus diberikan makanan yang bertekstur kasar namun orangtua masih saja memberikan makanan dengan tekstur halus.

Pada pola asuh anak, dianjurkan untuk mengikuti panduan Kartu Menuju Sehat (KMS). Karena kebanyakan orangtua lebih mengkhawatirkan soal berat badan anak sehingga stimulus untuk tahapan pe rkembangan seringkali terabaikan, bisa jadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan dan nantinya dapat berpengaruh pada proses bicara anak.

Orangtua juga harus memperhatikan faktor gizi yang cukup untuk anak. Karena gizi cukup sangat berpengaruh pada kesiapan anak berbicara, konektivitas saraf pada organ anak. Kebersihan di lingkungan sekitar juga demikian.

Kendala yang tidak kalah berpengaruhnya pada proses tahapan berbicara adalah anak tidak pernah diajak ngobrol bertema. Misalnya mengajak anak ngobrol melalui fun cooking bareng yang akan memstimulus produksi kosa kata anak. Bukan lagi didapati di sehari-hari ortu menyuruh anak dengan:” nak, ambilkan itu, nak ambilkan ini”, tanpa menyebutkan itu dan ini benda apa sehingga anak-anak tidak miskin kosa kata. Membaca memiliki beberapa tingkatan: yaitu membunyikan teks. Pada tingkatan ini anak diajarkan untuk menguhubungkan makna dan kata (konsep) dengan mengenal objeknya. Anak yang miskin kosa kata dikarenakan orang dewasa tidak mengirimi kosa kata.  Melibatkan anak dengan pekerjaan  sehari-hari akan menstimulasi anak berbicara dan memperbanyak kosa kata.

***

Comments are closed.